4.2 Berkomunikasi dengan Mahasiswa

Saya masih ingat betul, ketika menjadi mahasiswa S1, mengikuti sebuah pelatihan metode andragogik. Kata andragogi nampaknya memang tidak setenar lawannya, pegagogi. Teori pembelajaran androgogi secara formal memang belum berumur lama. Tertulis di Wikipedia, teori ini diperkenalkan pada tahun 1990an oleh Malcolm Knowles. Tetapi, secara de facto, teori pembelajaran ini sudah ada sejak dulu. Teori ini secara umum memandang bahwa subyek pembelajaran adalah orang dewasa yang perlu diperlakukan sebagai orang dewasa, yang sudah bisa memilih, berpikir mandiri, dan bertanggungjawab atas pilihan yang dibuatnya.

Bagi saya, mahasiswa adalah orang dewasa yang harus diperlakukan secara dewasa. Mereka sadar, setiap pilihan ada konsekuensinya. Tugas pengajar adalah menyadarkan tentang itu. Cinta adalah anak kandung kebebasan. L’amor est l’enfant de la liberte, kata orang Perancis. Biarlah mereka bebas memilih.

Kalau ada dosen yang memanggil mahasiswa dengan “kalian” atau “kamu”, ketika berkomunikasi, biasanya memang belum menerapkan pembelajaran andragogik. Dalam budaya Indonesia, sebutan “kalian” atau “kamu” adalah sebutan yang “merendahkan”, beda halnya dengan “anda” atau “saudara”. Menggunakan “kita” nampaknya terasa lebih empatik. Dalam bahasa Inggris, “you”[1] lebih egaliter dibandingkan dengan “kamu” dalam bahasa Indonesia.

Dalam tradisi Islam, banyak metode pembelajaran dan cara berkomunikasi yang bisa dirujuk. Salah satu yang sangat demokratis dan pasti menggunakan pendekatan andragogik adalah pelajaran dari dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis dan Nabi Ibrahim mengganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada Surat Ash- Shaaffaat ayat 102 yang terjemahannya sebagai berikut:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Cara komunikasi Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail ini bisa dijadikan cermin berkomunikasi dalam pembelajaran.


[1] Meskipun kata you pada awalnya menunjukkan hirarki, namun perkembangan bahasa Inggris menggantikan thou yang egaliter dengan you. Thou yang banyak ditemukan dalam literatur biblikal, termasuk terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris mengandung arti yang sangat egaliter. Manusia memanggil Allah dengan thou yang menunjukkan kedekatan tanpa jarak psikologis seperti yang ditemukan antara rakyat dengan rajanya.

2 thoughts on “4.2 Berkomunikasi dengan Mahasiswa

  1. Entah kenapa kalau saya lebih enak dipanggil ‘kamu’ oleh dosen. Kesannya kita lebih dekat dengan dosen tersebut. Sama saat berkomunikasi dengan teman, pake saya kamu kan lebih enak hehe :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s