1. Prolog

Buku ini merupakan pengembangan salah satu tulisan pendek dalam blog saya yang berjudul “Mengajarlah dengan cinta!”.

Ada banyak alasan mengapa saya merasa perlu menulis tentang ini. Pertama, banyak dosen[1] di Indonesia yang tidak mendapatkan materi tentang mengajar dengan baik. Banyak di antara mereka yang belajar sendiri dari pengalaman yang didapatkan selama duduk di bangku kuliah akan sangat menentukan. Saya termasuk dalam kelompok ini.

Menulis buku ini adalah sebagai salah satu upaya menyegarkan, menyemangati, dan meyakinkan diri sendiri, bahwa pilihan saya menjadi dosen, tidaklah salah. Selain itu, menulis pengalaman merupakan upaya merekontruksi kesadaran dan praktik yang selama ini seakan-akan taken for granted dan tanpa mempertanyakan lagi mengapa seperti ini atau seperti itu.

Hal ini mirip dengan “agama” yang oleh filsuf China disebut dengan “knack” (sebuah tendensi untuk melaksanakan sesuatu, sebuah ketangkasan) (Amstrong, 2009). Knack dapat diilustrasikan ketiga seorang pande besi membuat pisau secara tradisional. Ketika besi yang telah dipanaskan dipukul dengan lembut, maka pisau yang bagus tidak akan dihasilkan. Namun, ketika pukulan yang dilakukan terlalu bersemangat, maka si pande besi akan cepat merasa capek. Apa yang dilakukan? Dia menemukan pukulan yang menurut dia pas, untuk menghasilkan pisau yang bagus. Dia memukulnya dengan hati. Dia menemukan kesulitan untuk menjelaskan, tetapi dia mengetahuinya. Itulah knack, ketangkasan.

Konsep knack ini mirip dengan practical consciousness (kesadaran praktis), sebagai lawan discursive consciousness (kesadaran diskurif) yang diperkenalkan oleh Gidden (1979) dalam Teori Strukturasi. Kesadaran praktis adalah pengetahuan tersirat (tacit knowledge) yang dijadikan dasar dalam menjalan suatu tindakan, sedang kesadaran diskursif melibatkan pengetahuan yang dapat dieskpresikan dalam sebuat diskursus (wacana). Menulis buku ini, bagi saya adalah ikhtiyar menerjemahkan kesadaran praktis ke dalam kesadaran diskursif yang lebih mudah dinikmati dan disebar-luaskan. Atau berusaha, membongkar knack ke dalam narasi yang dapat dipahami.

Kedua, kelompok ini pun jarang yang dengan sengaja meluangkan waktu mempelajari teknik pembelajaran. Kesibukan akademik dan beban administratif lain seringkali menjadi alasan. Meskipun, sebetulnya banyak bahan bacaan, forum, dan media lain yang dapat dijadikan inspirasi.

Namun demikian, dosen yang mendapatkan pelatihan atau pendidikan yang cukup terkait dengan pembelajaran pun, tidak serta merta dijamin akan dapat menjadi dosen yang baik. Ada unsur personalitas, filosofi, dan keseriusan dosen.

Seseorang dengan personalitas khusus seringkali tidak cocok menjadi dosen, atau paling tidak untuk waktu tertentu. Gaya mengajar tahun 1980an sangat mungkin sudah tidak cocok dengan selera tahun 2000an. Waktu berjalan, tuntutan berkembang, selera zaman berubah. Dosen harus menyesuaikan, tanpa mengorbankan prinsip-prinsip utama pengajaran. Hal ini semakin berat untuk bidang ilmu yang berkembang dengan pesat, seperti teknologi informasi.

Ketika saya bertemu dan makan siang dengan seorang profesor dari Temple University, dia mengatakan, “It’s a hard field“, ketika mengetahui bidang saya adalah teknologi informasi. “Why?“, tanya saya. Dia menjawab bahwa bidang ini berkembang sangat cepat dan kita harus selalu mengikuti perkembangannya.

Mencari role model yang tepat, seringkali akan sangat membantu membentuk persepsi bagaimana harus menjadi pengajar. Mungkin dosen Anda yang sangat sukai sewaktu kuliah, pembicara konferensi yang Anda kagumi, penceramah pengajian yang menakjubkan, atau mungkin dosen imajinatif dari banyak film Holywood. Seperti terangkum dalam Nahjul Balaghah (Abduh, 1991), Imam Ali pernah mengatakan, emas yang keluar dari anjing tetaplah emas. Mungkin Anda ingin memutar lagi film Dead Poet Society, sebuah film Holywood dari 1989 dengan Robin Williams sebagai aktor utamanya. Pengajar di film tersebut membuka cakrawala baru dalam belajar dengan semangat membebaskan. Atau, jika Anda di pendidikan dokter, ada baiknya melirik kembali film Patch Adams dari 1998 dengan aktor yang sama. Atau mungkin Scent of a Woman yang dibintangi oleh Al Pacino.

Seringkali role model akan membantu dalam memilih gaya dan menunjukkan siapa kita. Kalau ada anak muda yang mengatakan bahwa role model yang disukainya adalah Hitler, Slobodan Milosevic, atau Pol Pot, maka dengan mudah Anda bisa menebak anak muda macam apa dia. Sebaliknya jika dia mengatakan, role modelnya, adalah Nabi Muhammad dan Imam Ali, Anda tahu harapan apa yang bisa Anda gantungkan kepadanya.

Filosofi menjadi seorang dosen juga akan sangat mempengaruhi bagaimana peran dimainkan. Saya termasuk yang setuju, bahwa tujuan pendidikan pada  hakekatnya adalah membentuk manusia. Semua aspek harus disentuh, dalam konteks perguruan tinggi, mulai dari (1) membantu pengembangan individu mahasiswa, (2) meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap aturan-aturan sosial dan moral, dan (3) mentransmisikan pengetahuan (Halstead, 2004).

Ketiga hal ini dicapai dengan implementasi ketiga prinsip dalam pendidikan, mulai dari (1) tarbiyah (to grow, increase), (2) ta’dib (to be refined, disciplined, cultured), dan (3) ta’lim (to know, be informed, perceive, discern) (Halstead, 2004). Ketiga prinsip ini dapat diterjemahkan ke dalam turunan-turunan yang masuk ke dalam kurikulum, termasuk metode dan lingkungan pembelajaran.

Dengan pendekatan lain, UNESCO memperkenalkan empat pilar pendidikan (Delor et al., 1996), yaitu (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to be, dan (4) learning to live together. Tujuan tertinggi pendidikan (learning to live together) adalah menjadikan manusia berkembang yang didasarkan pada pemahaman terhadap lingkungannya,  sejarahnya dan nilai-nilai tradisi dan spiritualnya. Dengan demikian diharapkan dapat terbentuk semangat baru yang membimbing pada kesadaran akan meningkatnya interdependensi dan tidak lagi mungkin manusia hidup terisolasi dan tercerabut dari konteks sosial.

Pencapaian tujuan tertinggi tersebut didukung oleh tiga pilar lain. Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat cepat, mengharuskan learning to know dapat dikelola dengan baik. Learning to do tidak hanya dilakukan untuk menjadikan manusia siap kerja, tetapi lebih dari itu, hasil dari proses ini haruslah memberikan kompetensi bekerja dalam tim dan adaptasi dalam beragam situasi. Pilar learning to be didasarkan pada kesadaran bahwa manusia pada dasarkan sangat potensial dan potensi harta karun ini harusnya dapat digali melalui proses pembelajaran.

Filosofi akan menentukan keseriusan. Keseriusan memainkan peran dosen akan terkait dengan komitmen. Kalau ada dosen yang menganggap mengajar atau meneliti, misalnya, sebagai ritual akademik dan harus dilakukan hanya untuk menggugurkan kewajiban, maka dampak dari aktivitas tersebut biasanya akan marjinal.


[1] Dalam bagian lain buku ini, istilah pengajar digunakan menggantikan istilah dosen, tetapi keduanya dapat diartikan sama. Istilah dosen atau pengajar dalam buku ini harus dimaknai dengan lebih luas, termasuk sebagai pendidik, dan mencakup ketiga prinsip pendidikan yaitu tarbiyah, ta’dib, dan ta’lim seperti akan disinggung pada bagian selanjutnya.

12 thoughts on “1. Prolog

  1. Andai semua pengajar (dosen) bisa membaca ini dan mengerjakan sesuai yang digariskan, pastilah Indonesia yang kita cintai ini akan menjadi negara yang gemah ripah loh jinawi, manusianya menjadi manusia sejati sesuai seperti tujuan Allah menciptakan manusia, yaitu menjadi kholifah dan hanya untuk beribadah…..alangkah indahnya. Tetapi tidak menyurutkan semangat… kalau dimulai dari diri sendiri, mulai sekarang dan mulai dari yang kecil yang bisa dilakukan. “Mengajar dengan hati dan cinta”

    • Terima kasih Bu Ning, telah mampir dan untuk komentarnya. Mudah-mudahan Bu Ning dan keluarga selalu sehat.

    • Assalamu Alaikum Wr.Wb. Membaca tulisan Bapak….. rasanya keinginan menjadi dosen semakin kuat…. ada kekhawatiran yang ada… apa saya bisa???? terimakasih atas masukan Bapak… semoga menjadi inspirasi dan pengetahuan untuk saya khususnya….

    • Mas Bahar, triknya sederhana: luruskan niat, tetap semangat belajar, dan cintai pekerjaan.

  2. Terima kasih atas tulisannya yang menginspirasi pak.. izinkan saya mengambil pelajaran dari tulisan2 bapak.. Semoga bapak dan keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT.. semoga semangat untuk belajar & mencari ilmu senantiasa ada dalam diri kita semua.. Aamiin

  3. Enak dibaca, penuh informasi dan petunjuk-petunjuk, inilah yang saya sukai dari blog ini. Cara menulis esai/tulisan yang diuraikan secara santai seperti ini patut ditiru dan dipraktekkan. Terima kasih, Pak.

  4. Asalamu’alikum.. Pak Wahid.., Bagaimana untuk memulai menulis bagi penulis pemuli agar supaya konsisten dan komitmen dalam menulis. Bidang saya Manajemen kebijakan pendidikan Islam (MKPI), mohon penjelasanya. terimakasih

  5. Salam Sejahtera Pak Wahid..terimakasih untuk tulisannya..setelah hampir 12 tahun di dunia profesional..hati saya dan passion saya ada dalam dunia pendidikan dan saya terdorong utk menjadi tenaga pendidik nantinya..tahun ini saya akan mengambil S2 dan selanjutnya saya akan menjadi pengajar,dan tulisan bapak semakin menguatkan dan menginspirasi

  6. Pak fathul ada Fb atau tweet nya g pak, sy sangat ingin membaca artikel bapak. Agus dari Rokan Hilir Riau

  7. Alhamdulillah. Ketika saya perlu bimbingan dalam proses pencarian ini. Sy ditunjukkan pada blog yang… subhanalloh……. sesuatu banget
    Ijin belajar pa disini……
    Terima kasih telah mau berbagi… dan bersyiar….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s