10.3 Juragan-Babu

Meskipun hubungan ini tidak diharapkan, tidak jarang kita temui di lapangan antara dosen senior (atau dosen yang merasa senior) dan dosen yunior (terutama yang pernah diajar atau pernah menjadi asistennya). Dalam konteks ini, dosen senior tidak mempunyai sensitivitas ketika meminta bantuan kepada dosen muda. Dia lupa, bahwa ketika mantan mahasiswa atau asistennya menjadi dosen, maka statusnya menjadi sederajat dan dosen yunior pun berhak mendapatkan perlakukan yang sama dengan yang senior.

Sebab lain adalah dosen senior yang merasa lebih menguasai banyak hal dan menyepelekan kemampuan dosen yunior. Semua ukuran dibuat sesuai dengan keinginan dosen senior dan mengabaikan keberadaan dosen muda. Kasus ini sangat mungkin terjadi di lingkungan kampus yang masih mempraktikkan feodalisme, meskipun mereka pasti tidak akan setuju jika disebut demikian.

Hubungan seperti sangat tidak sehat, baik bagi dosen senior, dosen yunior, maupun bagi institusi. Dosen yunior pada tingkat tertentu akan kehilangan rasa hormat kepada dosen senior (paling tidak ketika tidak di depan dosen senior). Dosen senior pun secara sadar atau tidak sadar membangun iklim yang tidak mendukung dosen yunior untuk berkembang dan menjadi diri sendiri. Yang lebih menghawatirkan, hubungan yang tidak sehat ini ibarat bara dan sekam yang sewaktu-waktu ketika mendapatkan angin akan membakar institusi.

Konflik antargenerasi ini biasanya menempatkan dosen yunior dalam posisi yang lemah dan tidak menguntungkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s