11.1 Menguji Kembali Pilihan

Masih yakinkan Anda dengan pilihan karir menjadi pengajar atau dosen? Jika Anda mulai ragu, masih banyak waktu untuk memulai karir baru, sebelum terlambat.

Anda ingin menjadi orang kaya-raya dengan menjadi pengajar? Jika itu cita-cita Anda, pilihan menjadi pengajar mungkin adalah pilihan tertolol yang pernah Anda lakukan. Berdasar diskusi dengan beberapa kolega dari negara maju, di negara maju sekalipun, pilihan menjadi pengajar disertai konsekuensi serupa. Gajinya kalah jauh dibandingkan dengan profesional yang bekerja di perusahaan nasional atau multinasional. Memang di Indonesia, karena berbagai keterbatasan yang ada, gaji dosen belum bisa setinggi di negara-negara maju, bahkan untuk setara dengan negara tetangga serumpun Malaysia pun masih sangat sulit.

Tetapi saya melihat banyak kolega dosen yang terlihat ikhlas menjalani amanahnya, hidupnya berkecukupan. Cukup adalah kata kunci di sini. Mereka mempunyai rumah, tidak harus besar dan mewah. Mereka mempunyai kendaraan. Mereka dapat menyekolahkan anak-anaknya. Mereka mampu menafkahi keluarganya dengan gaya hidup yang disepakati. Saya termasuk yang percaya, hidup lebih dari sekedar matematika sederhana, 1 + 1 = 2. Banyak hal tak terduga dalam hidup, yang menjadikan 1 + 1= 2 menjadi seringkali tidak berarti. Jika Anda tidak percaya. Daftar semua kekayaan yang Anda punyai sekarang ditambah dengan pengeluaran yang sudah Anda lakukan sejak Anda menerima gaji pertama, kuantifikasikan dalam rupiah. Kemudian hitung gaji Anda dalam rupiah selama Anda bekerja. Mana yang lebih besar? Jika penghasilan kita berkah, saya percaya yang pertama jauh “lebih besar”.

Bagi seorang muslim, mengajar dengan baik, adalah salah satu manifestasi taqwa. Allah telah berjanji pada ayat 2-3 dari Surat Al-Talaq, “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keluar dari kesusahan, dan diberikanNya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan keperluannya.” Meyakini ayat ini ternyata memang tidak mudah, apalagi dengan pola pikir yang cenderung kapitalis.

Sebuah kisah sufisme menguatkan betapa susahnya menyakini hal ini. Seorang pencuri kain kafan pada masa itu menghadap Abu Yazid Al-Bustami karena ingin bertaubat. Abu Yazid pun bertanya mengapa si pencuri ingin bertaubat. Si pencuri mengatakan bahwa dia telah mencuri lebih dari 1000 kain kafan dengan menggali kuburan. Ternyata, dari semua mayat tersebut hanya dua yang wajahnya tetap menghadap kiblat. Sisanya wajahnya telah berpaling dari kiblat. Abu Yazid kemudian berkata, “Kasihan mereka. Karena ragu-ragu dengan rezeki sehingga menyebabkan wajah mereka berpaling dari arah kiblat.” Ternyata, hanya sedikit orang yang percaya bahwa rezeki akan diberikan oleh Allah kepada mereka yang telah bekerja dan menjalankan kewajibannya dengan sungguh-sungguh, sebagai manifestasi taqwa.

Tentu ini bukan mistik atau mengada-ada, karena ternyata pintu rejeki tidak tunggal. Seringkali, tanpa diduga, pintu rejeki lain terbuka, karena memang kita dianggap layak menggunakan pintu rejeki tersebut, karena kompetensi dan perilaku kita. Tidak percaya? Coba perhatikan dosen yang menjadi pembicara di banyak seminar, misalnya. Dia tidak mungkin dosen tanpa kompetensi dan perilaku yang baik.

Jika Anda ingin menjadi kaya-raya, menjadi entrepreneur adalah pilihan yang lebih rasional. Hal ini bukan berarti dosen tidak boleh kaya, dan entrepreneur selalu kapitalis. Seorang kawan bahkan secara hiperbolik menilai bahwa menjadi entrepreneur adalah manifestasi ketauhidan tertinggi karena menjadi manusia bebas dan “tidak tergantung” kepada orang lain karena mempunyai kemandirian finansial.  Sebaliknya, kalau bekerja dengan menjadi bawahan, termasuk menjadi dosen, masih tergantung dengan atasan atau pembayar gaji. Tentu saja ini metafor yang harus diterima dengan catatan khusus.

Menjadi dosen juga sebetulnya bisa nyambi menjadi entrepreneur. Asalkan yang ditempatkan sebagai sambilan adalah bisnisnya, bukan statusnya sebagai dosen. Yang menjadi masalah, kalau menjadi dosen dianggap sebagai sambilan, yang berdampak pada komitmen yang rendah.  Eit, jangan salah lho, dosen yang model begini juga menganggap dirinya mempunyai komitmen tinggi. Karenanya kita harus hati-hati berbicara dengan dosen yang mungkin Anda anggap mempunyai komitmen rendah. Jika demikian keadaanya, korbannya adalah kualitas pendidikan dan mahasiswa. Ukurannya sederhana, suatu saat ketika anak Anda kuliah, dan ternyata perkuliahan sering kosong karena dosen yang super sibuk mengurusi bisnisnya yang lain, apakah Anda akan baik-baik saja atau melalukan protes? Sebagai orang tua yang baik, saya kok masih yakin, Anda tidak akan baik-baik saja.

Kalau Anda ingin melakukan bisnis, yakinkan bahwa Anda on business, tidak in business. Kalau in business, maka Anda akan terjebak dengan bisnis yang Anda jalankan, karena Anda harus terlibat langsung secara intens, dan bisa jadi Anda berpendapat tidak ada orang lain yang lebih kompeten dibandingkan dengan Anda dalam menjalankan bisnis. Sebaliknya, jika on business, maka Anda akan menjadi inisiator atau mungkin investor, tanpa terlibat pada hal-hal teknis. Anda membiarkan bisnia Anda bekerja, sementara Anda menikmati pekerjaan Anda sebagai dosen.

Berhenti menjadi dosen dari universitas Anda? Ya boleh-boleh saja. Asal caranya benar, tidak melarikan diri meninggalkan norma profesionalisme. Pepatah mengatakan, “datang tampak muka, pergi tampak punggung”. Ya, datang dengan surat lamaran, mengikuti proses seleksi, mosok mau keluar tidak pamit dengan baik-baik.

Hal ini pernah saja diskusikan dengan kolega dari negara maju terkait masalah brain drain. Ilustrasinya: mahasiswa Indonesia yang sekolah di luar negeri, banyak yang sudah mempunyai posisi tetap di universitas asal, tetapi tidak mau kembali ke Indonesia, melainkan melanjutkan hidup di negara lain. Banyak di antara mereka yang “melarikan diri”, dan melupakan jasa universitas asal yang digunakan namanya untuk mencari sekolah dan atau beasiswa. Yang aneh, mereka melakukannya dengan bangga. Kata orang Jawa, kacang lali lanjaran[1]. Mereka menciderai kontrak yang dibuatnya. Biasanya karena alasan uang. Tetapi, bukan berarti semua orang Indonesia cerdas yang bekerja di luar negeri karena alasan ini lho. Ada banyak alasan lain, seperti keterpaksaan karena ketiadaan peluang di Indonesia atau politis.

Ini juga nampaknya perlu menjadi catatan untuk pemerintah Indonesia. Program sertifikasi dosen dan adanya tunjangan profesional dosen adalah salah satu solusi, meskipun perlu dicatat uang bukan segala-galanya.


[1] Seperti kacang panjang yang lupa dengan tongkat tempat merambatnya.

15 thoughts on “11.1 Menguji Kembali Pilihan

  1. ehm setuju, carilah pekerjaan lain jangan menjadi dosen pns. jadi dosen membuat hidup tidak tenang karena setiap hari harus berpikir untuk menambah penghasilan maklum gaji dosen gol III sekitar 2 jutaan dan gol IV sekitar 3 jutaan. malah lebih enak jadi tni/polri (gaji terendah sekitar 4.5 jutaan), hakim gaji terendah sekitar 15 jutaan atau menjadi pegawai departemen keuangan yang gajinya lebih tinggi lagi…

    • bejo ..bejo.. setuju setuju apa ya. dosen itu seperti guru yang menciptakan orang2 yg bisa menghasilkan uang dg bekerja di sektor lain. Kalo semua orang setuju gak mau jadi dosen terus siapa mau jadi dosen?!! think smart bro bejo

  2. Kita butuh uang, tapi uang bukan segala galanya.hidup cukup dan berkah sy pikir lebih baik daripada nominal banyak tapi krg berkah, syukur syukur banyak dan berkah .artikel yg menarik

  3. Setuju pa. Kalo mau bisnis sampingan jangan mengganggu kinerjanya sebagai dosen. Rejeki bisa dari mana saja. Kita tidak seharusnya membatasi rejeki kita. Kalo saya melihatnya kehidupan ini bermain peran. Peran kita tidak hanya sebagai suami yang mencari nafkah tp juga peran yang lainnya. Tidak hanya kerja terus tapi juga keluarga perlu diperhatikan. Uang bukan segalanya tp kita perlu uang untuk hidup. Intinya syukur dan seimbang hdp kita.

  4. menyentuh sekali artikel yg bapak tulis. saya mempunyai cita cita menjadi dosen. mudah-mudahan saya bisa menjadi seperti pak fathul🙂

  5. Saya bekerja sebagai eksekutif di industri dan juga sebagai dosen part-time.
    Menjadi dosen itu berat, harus mempersiapkan bahan kuliah, menyiapkan case, memeriksa tugas dan ujian, dan honornya…? Hanya cukup untuk beli pulsa bagi pembantunya supir saya.

    Padahal saya mengajar MM di PTS terkemuka di Jakarta yang terkenal mahal. Bagaimana PTS yang peringkatnya lebih rendah ???

    So saya mengerti kenapa banyak anak muda potensial Indonesia yang tidak mau menjadi dosen. Dosen Part time saja tidak mau, apalagi fulltime.

    Saya mengerti memang jadi dosen adalah ke pengabdian, tapi ya mbok ya kesejahteraan dosen lebih diperhatikan. Terutama kampus-kampus swasta, yang mengutip tuition fee yang sangat besar dari mahasiswa, namun untuk kesejahteraan dosen tidak mau memikirkan.

    Jangan hanya bergantung pada kami dosen part-timer yang bekerja di Industri. Kami mau mengajar karena kami cinta mengajar dan tidak mencari nafkah disitu, tapi bukan berarti kami harus dihina dengan honor yang hanya cukup untuk bayar bensin sekali ke kampus.

    University jangan take for granted terhadap pengabdian kami kaum profesional yang bekerja part-time sebagai dosen/adjunct lecturer.

    Jangan heran kalau turn-over dosen pascasarjana sangat tinggi dan itu merugikan mahasiswa juga.

    • Aslmkm. Luar biasa sekali tulisannya Pak. Saya saat ini sedang bingung. Saya seorang perawat, dan saat ini bekerja di salah satu RS di sebuah kota besar. Dalam benak saya saya ingin sekali jd dosen krna saya wanita yg nantinya akan menjadi seorang ibu. Tapi saya ragu dengan pendapatan seorang dosen nantinya karena tanggungan saya masih banyak. Mohon pencerahannya. Tks.

  6. Menurut pribadi saya jalani hidup yang lebih mudah tapi berat dijalani tanpa harus memikirkan hasilnya yang penting fokus terhadap apa yang kita kerjakan dan bertanggung jawab, InsAllah Allah S.W.T akan memberikan jalan yang lebih Baik. Selamat malam pak fathul, mungkin Bapak masih mengenal saya. Maaf janji saya belum bisa saya penuhi Pak,bahkan mungkin sudah tidak bisa saya penuhi.Terimakasih

  7. Menjadi dosen di PTS kecil (milik yayasan pula) memang butuh perjuangan. Apalagi saya yang masih berstatus honorer. Hanya mendapat imbal jasa sesuai SKS (tak ada gaji pokok maupun tunjangan yang lain), yah, untuk ganti bensin pun mungkin nombok. Tapi, saya ingat pesan dekan tempat saya bekerja, jika tidak ada yang mau berjuang dari nol seperti saya, yayasaan mungkin saja ambruk karena dipenuhi oleh orang dari luar yang tak mau memahami prinsip-prinsip yang dimiliki yayasan untuk “ngurip-nguripi yayasan, bukan mencari penguripan (penghasilan) dari yayasan”. Semoga istiqomah para dosen…🙂

  8. salam. terlepas dari besar tidaknya honor yg didapatkan bagi dosen khusunya dosen non pns. bagi saya profesi dosen itu adalah profesi yang jauh lebih baik dibanding kerja di birokrasi. kemerdekaan lebih didapatkan dibanding di biroktrasi meskipun dunia akedemis adalah dunia birokrasi pd bentuk yg lain. tapi dosen bagi saya adalah bekerja sambil belajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s