11.2 Manusia Merdeka

Menjadi dosen pun bisa tetap menjadi manusia merdeka, dan seharusnya memang seperti itu. Kebebasan akademik adalah buktinya. Tetapi memang, ada sebagian dosen yang tersandera dengan kepentingan tertentu, dan agak ragu menyuarakan yang benar secara akademik karena risiko yang mungkin dihadapi. Ada yang terkooptasi kekuasaan, ada yang senang menyari aman.

Ini juga nampaknya yang membuat gusar Jurgen Habermas ketika mengharapkan kalangan akademik yang kritis dengan persoalan sosial. Saya melihat banyak akademisi yang dapat melakukan kritik sosial dengan baik dan dengan santun. Mereka tetap bisa menyuarakan kebenaran yang diyakini tanpa membuat yang dikritik terluka.

Memang tidak semua bidang ilmu bisa langsung terkait dengan kritik sosial, tetapi saya yakin, semua bidang ilmu dapat mengembangkan kontribusi terhadap perkembangan sosial, sekecil apapun. Seringkali memang keberhasilan dalam membonsai ilmu menjadi sebabnya. Banyak orang yang terlalu bangga dengan bidang ilmunya dan tidak mau membuka diri berkomunikasi dan bekerjasama dengan bidang lain. Namun, ada juga yang memang tidak tahu dan masih mencari tahu bagaimana membuka kanal kerjasama interdisiplin yang pas. Ini adalah proses, dan yang diperlukan hanya satu: open mind. Ya, pikiran terbuka. Tanpa ini pintu kerjasama dan kemungkinan kolaborasi sudah ditutup rapat-rapat.

Membuka kerjasama interdisiplin juga sebagai salah satu cara meningkatkan relevansi bidang ilmu dengan kondisi sosial yang ada. Sebagai contoh, ketika kita mengemas teknologi informasi dan dikawinkan dengan pertanian, maka akan muncul teknologi informasi untuk sektor pertanian yang pada tingkatan tertentu akan mengurangi kemiskinan. Banyak contoh yang bisa diambil dari berbagai proyek e-government di India.

Tetapi, kalau teknologi informasi dibatasi oleh tembok mekanistik yang menjadikannya tercerabut dari konteks, maka relevansinya untuk pengembangan masyarakat menjadi minimal.

Contoh lain. Kawan-kawan di arsitektur yang oleh banyak orang awam dianggap hanya bertugas menggambar rancangan gedung dapat berperan sangat luar biasa untuk masyakarat. Anggapan sempit tersebut tentu saja salah, paling tidak sependek yang saya tahu. Kalau Anda mengikuti kisah Romo Mangun, misalnya, Anda akan menemukan kisah arsitek yang mungkin di luar bayangan Anda sebelumnya.

Terlalu banyak contoh lain yang bisa diberikan di sini. Namun intinya, sebagai manusia merdeka, dosen dapat memilih jalur keilmuan mana yang akan dikembangkan, dan dengan siapa dia bekerjasama. Kalau kemerdekaan ini disia-siakan, alangkah sayangnya. Di sinilah kecendikiawanan dosen diuji. Darma ketiga dalam Tridarma, yaitu pengabdian masyarakat dalam arti luas, nampaknya sangat relevan dalam konteks ini. Tanpa kepedulian terhadap lingkungannya, predikat cendekiawan atau ulil albab tidak pantas disematkan kepada seorang dosen.

Tetapi, jika Anda merasa sedikit ragu, ya hanya sedikit ragu, menjadi dosen karena takut dengan masa depan Anda dan keluarga Anda, masih banyak waktu untuk memantapkan dan meluruskan niat. Seperti saya tuliskan pada bagian awal buku ini, menuliskan pemikiran dalam bentuk tulisan yang lebih terstruktur – meskipun kalau ditelaah ulang terlihat perlu distrukturkan lagi – seperti ini juga sebagai upaya memantapkan diri atas pilihan karir. Ada banyak pembenaran dan argumen meyakinkan sebanyak proses penulisan muncul. Seperti kata orang bijak, berjalanlah sejauh mata memandang, dan bersiaplah dengan kejutan-kejutan. Bukankah kejutan-kejutan akan menjadikan hidup lebih berwarna dan menantang untuk dilakoni?

Namun, jika Anda sudah merasa mantap, mari kita belajar bersama. Kutipan dari Johann Wolfgang von Goethe, cendekiawan Jerman, berikut mungkin membantu membingkai niat atau mungkin obsesi kita dalam menjalani misi menjadi seorang pengajar, seorang dosen.

“A teacher who can arouse a feeling for one single good action, for one single good poem, accomplishes more than he who fills our memory with rows and rows of natural objects, classified with name and form.

2 thoughts on “11.2 Manusia Merdeka

  1. blogbook ini benar-benar sangat menginspirasi!

    sincerenly,
    mahasiswa yang bercita-cita menjadi dosen namun masih bingung karena pertimbangan banyak hal😀

  2. saya jadi semangat lagi karena hampir saja menyerah karena lingkugan kampus yang tidak nyaman, dosen ang sudah 8 thn berjuang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s