2.2 Posisi Pengajar

Menjadi dosen atau pengajar, tentu saja termasuk guru dalam semua tingkatan mendapatkan posisi yang sangat terhormat. Dalam hirarki kemuliaan akademik, menjadi pengajar mendapatkan posisi pertama. Nabi Muhammad pernah berkata, “Kun aliman, au muta’alliman, au mustami’an, au muhibban, wa la takun khomisan, fatahlik!”. Jadilah kamu pengajar, atau pembelajar, atau pendengar, atau pencinta, dan jangan jadi (golongan) yang kelima, maka kamu akan rusak.

Menjadi pengajar adalah pilihan pertama menurut anjuran Nabi. Tentu saja konteks Al-Hadits ini tidak hanya pada lembaga pendidikan formal di mana menjadi pengajar adalah sebuah pilihan profesi. Pada saat Nabi, nampaknya belum ada lembaga pendidikan formal. “Lembaga pendidikan” yang terekam pada saat itu adalah rumahnya Al-Arqom (Darul Arqom), di mana Nabi sering bertemu dengan sahabat dan berbagi wahyu yang diterimanya. Dalam konteks ini, setiap orang, siapapun dia, dapat menjadi pengajar.

Nabi Muhammad pernah berpesan, “Ballighu ‘anni walau ayatan“, sampaikan dariku meskipun hanya satu ayat. Secara implisit, pesan ini meminta kita untuk menyampaikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain, meskipun sedikit: menjadi pengajar.

Jika kita belum mampu menjadi pengajar, kata Nabi, jadilah pembelajar. Orang dengan rasa ingin tahu tinggi dan selalu haus ilmu. Dalam banyak kesempatan sebagai terekam dalam Al-Hadits, posisi pembelajar sangat dihargai. Beberapa teks Al-Hadits berikut dapat menguatkan klaim ini:

“Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi setiap muslim dan muslimah”

“Tuntutlah ilmu, mulai dari ayunan, sampai liang lahat!”

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China!”

Belajar bukan pekerjaan ringan. Perlu komitmen dan ketekunan. Tanpanya, aktivitas belajar akan menjadi sangat berat.

Suatu saat dalam sebuah perjalanan ke Eropa saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu. Si Ibu tersebut dengan rombongan lain akan berwisata ke beberapa negara di Eropa.  Meskipun baru kenal sebentar, si Ibu bercerita cukup banyak. Ketika tahu kalau saya seorang dosen, dan sedang menengok anak dan istri yang sedang belajar, dia berkomentar pendek, “Apa tidak capek belajar terus? Saya selesai S1 saja sudah merasa capek,” ungkapannya sangat serius, tanpa bermaksud melecehkan. Memang profesinya adalah pengusaha, dan saya yakin dia tetap belajar banyak meskipun tidak duduk di bangku lembaga pendidikan formal.

Belajar dapat dilakukan di mana saja, dengan modal utama rasa ingin tahu (curiosity).  Tanpa rasa ingin tahu, atau bahkan sudah disibukkan dengan ide-ide sendiri tanpa keinginan mendengarkan dari orang lain, belajar nampaknya sulit dilakukan.

Dalam sebuat cerita Zen, Guru Nan-in mempunyai seorang tamu yang ingin belejar tentang Zen. Si tamu bukannya mendengarkan Nan-in, tetapi malah banyak berbicara tentang ide-idenya sendiri. Sesaat kemudian, Nan-in menghidangkan teh. Nan-in menuangkan teh ke cangkir si tamu sampai penuh, dan tetap menuang sampai tumpah. Akhirnya, si tamu menyela, “Tidakkah Guru lihat kalau cangkirnya sudah penuh?.” “Cangkirnya sudah tidak muat lagi”, lanjutnya.

“Benar,” kata Guru Nan-in, dan akhirnya berhenti menuang. “Seperti sebuah cangkir, Anda sudah terisi dengan ide-ide sendiri. Bagaimana Anda mengharapkan saya untuk dapat memberimu Zen sampai Anda memberikan kepada saya cangkir kosong?”

Jika karena suatu keadaan kita tidak atau belum bisa menjadi pengajar atau pembelajar, pilihan ketiga adalah menjadi pendengar. Mendengar adalah sebuah pilihan sadar yang harus diikuti dengan kemauan meluangkan pikiran untuk dapat meningkatkan kualitas diri. Mendengar bukan hanya aktivitas ketika tidak mendapatkan giliran berbicara. Mendengar dengan baik tidak dapat dilakukan jika pikiran penuh. Mendengar  dalam konteks ini adalah yang terkait dengan aktivitas menuntut ilmu, bukan mendengarkan yang bersifat rekreasional, seperti mendengarkan musik melalui iPod kesayangan.

Jika masih saja tidak bisa? Masih ada pilihan keempat, jadilah pencinta[1]. Pencinta pengajar, pembelajar, dan pendengar ilmu. Nampaknya karena itulah, banyak orang-orang yang desa saya sangat senang berkunjung ke ulama atau kiai. Selain mereka suka mendengarkan nasihat, mereka ada pada pencinta ilmu. Mereka merasa nyaman dapat bertemu dengan para ulama dan kiai yang dengan tulus menyebarkan ilmu kepada para santrinya.

Tetapi, Nabi mengingatkan, jadi menjadi golongan kelima. Orang yang tidak termasuk pengajar, pembelajar, pendengar, dan pencinta. Kita bisa berikan daftar golongan ini, termasuk pembenci ilmu, pembenci pengajar, pembenci pembelajar, pembenci pendengar, dan pembenci pencinta ilmu. Kelompok air-headed yang kepalanya berisi udara, alias tidak mengetahui apa-apa karena pilihannya untuk tidak mau repot berpikir, dan mencibir kekhusyukan para pencari ilmu, dan cenderung hedonis nampaknya juga masuk dalam kelompok ini. Na’ubillahi min dzalik.


[1] Kata dasar aktif pencinta atau mencintai, yang artinya orang yang mencintai sesuatu. Variasi lain adalah pecinta dari kata dasar aktif bercinta yang berarti orang yang bercinta dengan sesuatu.

One thought on “2.2 Posisi Pengajar

  1. saya terdampar di blog ini, ketika saya sedang mencari alsan mengapa saya harus duduk di kursi panas wawancara untuk sebuah dosen di sebuah ptn esok hari. dalam arti kata lain, saya berusaha mencari jati diri saya. blog ini, membantu saya memahami makna sebuah kata pengajar, di samping hanya sebuah pekerjaan. terima kasih telah memebrikan saya gambaran tentang apa yang akan saya jawab besok. semoga, suatu saat saya juga bisa berbagi pengalaman saya sebagai seorang pengajar pada rekan yang lainnya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s