3.2 Ilmu versus Harta

Suatu ketika, Nabi Sulaiman ditawari oleh Allah memilih antara ilmu, harta, dan tahta. Nabi Sulaiman dengan tegas memilih ilmu, dan pilihan tersebut adalah yang terbaik. Dengan pilihan itu juga, Nabi Sulaiman akhirnya mendapatkan harta dan tahta sebagai raja, dengan kehendak Allah. Nabi Sulaiman adalah raja yang sangat kaya dengan wilayah kekuasaan yang luas. Raja-raja lain menaruh hormat kepadanya. Kemampuan khusus yang diberikan oleh Allah untuk berkomunikasi dengan binatang menjadikannya semakin khusus.

Jika dalam posisi Nabi Sulaiman, bisa jadi pilihan kita tidak demikian. Rentang waktu tujuan hidup yang masuk dalam komponen pertimbangan akan sangat mempengaruhi keputusan seseorang. Orang dengan pertimbangan kebahagiaan jangka pendek dan mereka yang hedonis tentu tidak akan memilih ilmu. Mungkin kita termasuk di dalamnya.

Dalam sejarah Islam, kita juga mendapatkan pelajaran lain dari Imam Ali bin Abi Tholib. Representasi kaum muda yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad. Suatu ketika Nabi mengatakan, jika Nabi adalah gudang ilmu, maka Imam Ali adalah kuncinya. Ali sangat brilian dan berani mengambil sikap, dengan keteguhan iman yang tidak terbantahkan.

Ketika Nabi mengatakan bahwa Iman Ali adalah ‘kunci gudang ilmu’, kaum Quraisy tidak mempercayai. Akhirnya mereka pun menguji kebenaran julukan tersebut. Mereka mendatangi Imam Ali di suatu tempat, menemui Imam Ali satu per satu, dan mengajukan pertanyaan yang sama: manakah yang lebih utama, ilmu atau harta, dan mengapa? Dalam setiap jawaban, Imam Ali mengatakan bahwa ilmu lebih utama dibandingkan harta. Untuk setiap jawaban, Imam Ali memberikan alasan yang sangat beragam, sebagai bukti kecemerlangan pemikirannya.

Berikut adalah beberapa alasan yang sempat Imam Ali sampaikan sebelum para pengujinya percaya atas kecerdasan Imam Ali:

  1. Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun dan Fir’aun.
  2. Ilmu akan menjaga dirimu, sementara harta malah sebaliknya, engkau yang harus menjaganya.
  3. Orang yang banyak ilmunya akan banyak pula orang yang menyayangi dan hormat kepadanya, sedangkan orang yang memiliki banyak harta akan banyak pula musuh dan orang yang iri kepadanya.
  4. Bila engkau gunakan, maka ilmu akan semakin bertambah banyak, akan tetapi sebaliknya, bila harta engkau gunakan, maka semakin lama akan semakin berkurang.
  5. Pemilik ilmu akan dihormati dan mendapat sebutan yang baik sedangkan pemilik harta sering kali dicemooh dan mendapat julukan yang buruk.
  6. llmu itu tidak ada pencurinya, sedangkan harta banyak sekali pencurinya.
  7. Pemilik ilmu akan diberi syafa’at (pertolongan), sementara pemilik harta akan dihisab (diusut asal-muasal dan penggunaannya) oleh Allah.
  8. Ilmu akan abadi selamanya, sedangkan harta sebaliknya. Harta adalah sesuatu yang fana dan suatu saat pasti akan habis tak bersisa.
  9. Pemilik ilmu dijunjung tinggi karena kualitas manusianya, sedangkan pemilik harta dijunjung tinggi karena jumlah harta-bendanya.
  10. Ilmu itu akan menyinarimu sehingga hati menjadi lembut, tidak beku dan hidup menjadi tenteram. Sedangkan harta sering kali membuat gelap mata, hati menjadi keras dan hidup menjadi tidak tenang, susah dan gelisah.

2 thoughts on “3.2 Ilmu versus Harta

  1. Dear bapak pengajar, saya belum membaca seluruh blogbook ini tapi menurut saya halaman ini sangat menarik, menguatkan diri saya untuk memantapkan diri unruk mengajar diusia muda, yang masih mengganjal di pemikiran saya antara mengajar dengan gaji yang tidak seberapa dibandingkan jika saya menjadi profesional dibidang yang saya tekuni. Saya baru saja lulus dari program master dan di minta mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta, dengan tawaran gaji yang sepertinya akan lebih rendah dan pekerjaan yang lebih berat jika dibandingkan dengan menjadi pekerja kantoran atau pemerintahan. Orang tua juga sepertinya sedikit kurang “sreg” jika saya menjadi pengajar dengan bayangan gaji yeng menurut mereka sedikit. Namun saya sangat menyukai dunia pendidikan terutama berbagi pengetahuan dan penelitian. Apakah bapak ada sedikit saran untuk dilema pilihan antara tetap mengajar atau memilih bekerja kantoran saja?

    Terimakasih

    • Kalau seperti itu. Kerja dulu, nabung pengalaman dan uang. Kalau dirasa cukup, asal jangan lama-lama, jadi pangajar. Biasanya ada batasan usia kalau melamar menjadi pengajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s