3.1 Pandangan terhadap Ilmu

“Orangtua ya bisanya mewariskan ilmu kepada anaknya, tidak bisa memberi harta”, begitu ucapan banyak orangtua, yang merasa dirinya tidak mampu secara ekonomi tetapi sangat mencintai ilmu. “Biarlah bapaknya tidak tamat SD, tetapi anak saya harus lebih pintar dibandingkan saya,” ungkapan yang juga sering saya dengar. Ungkapan ini adalah simbol kesadaran betapa pentingnya ilmu.

Di kampung, tidak jarang orangtua yang sadar pentingnya pendidikan harus merelakan sawah dan hewan ternak yang dipunyainya dijual untuk membiayai sekolah anaknya. Mereka bahkan rela untuk berhutang kiri-kanan untuk membayar uang sekolah atau kuliah anaknya dan dibayar kembali ketika sudah ada uang. Saya mengetahui secara personal banyak orang tua yang seperti itu. Suatu ketika seorang ibu berpesan berpesan kepada ibu saya, jangan sampai anaknya yang sedang kuliah di kota lain, mengetahui kalau untuk membayar uang kuliahnya menggunakan uang hasil hutang. Si ibu tidak mau membebani pikiran anaknya.

Jika Anda pernah tinggal di Yogyakarta dan bergaul dengan masyarakat sekitar, Anda mungkin tidak akan heran dengan cerita ini. Ketika musim pendaftaran sekolah tiba, jangan heran jika di pasar atau di pertemuan ibu-ibu dalam arisan dasawisma, yang dibicarakan adalah sekolah anaknya. Kesadaran masyarakat akan pentingnya sekolah sudah menjadi bagian dari kesadaran bersama. Mungkin Anda bisa temukan hal yang sama di kota lain. Atau mungkin tidak.

Namun, di sisi yang sangat ekstrim, saya juga sering mengetahui orangtua yang mengeluh tidak bisa menyekolahkan anaknya, padahal si bapak tiap hari menyisihkan uang yang cukup supaya mulutnya tidak sampai pahit jika berhenti merokok. Hitungan kasar saya, jika si bapak mau mengurangi atau bahkan berhenti merokok, biaya sekolah anaknya dapat terbayar dengan baik. Jika sehari menghabiskan uang Rp 5.000 untuk rokok, maka sebulah akan terkumpul Rp 150.000. Jumlah yang cukup untuk membayar uang sekolah.

Jika kita terlahir atau mengenal orang-orang dalam cerita pertama, sudah seharusnya kita bersyukur. Karena tidak jarang, hidup kita sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang-orang terdekat kita, bagaimana lingkungan kita memberi contoh atau memandang sesuatu. Contoh positif dan pandangan inspiratif yang diberikan tanpa kita sadari seringkali menjadi bahan bakar semangat kita dan sangat mempengaruhi pilihan-pilihan yang kita buat dalam hidup kita.

3 thoughts on “3.1 Pandangan terhadap Ilmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s