3.3 Ilmu dan Agama

Nampaknya dalam semua agama, ilmu ditempatkan pada posisi yang sangat terhormat. Dalam Islam, posisi ilmu ini sangat luar biasa terhormat.

Manusia diposisikan lebih terhormat dibandingkan malaikat, juga karena ilmu. Dalam Al-Qur’an, jelas tertulis, bahwa setelah Adam diberi intelektualitas dengan kemampuan mengidentifikasi nama-nama benda yang ada, maka Allah meminta malaikat bersujud kepada Adam. Semua bersujud kecuali Iblis. Nampaknya, jika kita tidak menghargai orang yang berilmu, prilaku kita merupakan cerminan kesombongan Iblis. Iblis tidak melihat apa kualitas intelektual, tetapi melihat ‘bahan baku’ penciptaan. Argumen Iblis kala itu adalah, karena dia diciptakan dari api, dan Adam dari tanah. Iblis mengira kalau api lebih terhormat dibandingkan tanah.

Namun, Allah adalah Maha Demokratis (maaf, tidak ada hubungannya dengan urusan partai politik!). Terjadilah dialog antara Allah dan Iblis. Iblis yang jelas-jelas mbalelo tersebut, bahkan diberi ijin oleh Allah untuk menggoda manusia untuk menguji mana yang berilmu/berakal dan mana yang tidak.  Dalam Surat Az-Zumar ayat 9, Allah berfirman, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”

Episode lain dalam sejarah Islam memperkuat pentingnya ilmu. Ketika Jibril diutus Allah menemui Muhammad, yang ketika itu belum menjadi rasul, yang diungkapkan Jibril pertama kali adalah, “Iqra’” (Bacalah!). Muhammad yang ummy, buta huruf, pun menjawab, “Ma ana biqari’” (Saya tidak bisa membaca!). Permintaan Jibril, menurut sebuah riwayat, bahkan diulang sampai tiga kali. Akhirnya, turunlah beberapa ayat pertama Al-Quran sebagai bukti inagurasi atau pelantikan Muhammad sebagai rasul. Nampaknya semuanya sepakat bahwa membaca adalah pintu dari ilmu. Allah menegaskan dalam Surat Al-Mujadillah ayat 11, bahwa orang yang beriman dan berilmu akan diangkat posisinya beberapa derajat.

Terlalu banyak ayat dan hadits lain yang menjelaskan posisi ilmu yang sangat mulia dalam Islam. Buku ini tidak bermaksud mendiskusikan dengan sangat detil.

2 thoughts on “3.3 Ilmu dan Agama

  1. Didalam surat Al-Kahfi ayat 50 (artinya):
    “Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’, maka mereka pun sujud kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka dia mendurhakai Tuhannya. …”

    Dengan dalil ayat tsb, maka dapat kita ketahui bahwa iblis itu dari golongan jin dan bukan dari golongan malaikat.

    • Terima kasih atas koreksinya. Informasi yang saya tulis berasal dari salah satu guru saya, yang menafsirkan kalau yang disuruh malaikan, kenapa ada iblis dalam kelompok malaikat? Tapi inti dalam tulisan itu bukanlah apakah iblis itu malaikat atau jin. Surat Al-Kahfi sudah memperjelas ini.Terima kasih dan tulisan akan disesuaikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s