6.1 Mengapa Meneliti

Konsep Tridharma perguruan tinggi di Indonesia pada intinya mencakup tiga proses penting, pembuatan pengetahuan (knowledge creation), penyebaran/diseminasi pengetahuan (knowledge dissemination), dan aplikasi atau penerapan pengetahuan (knowledge application). Perguruan tinggi sebagai knowledge enterprise sudah seharusnya menempatkan  penelitian dalam posisi yang sangat penting.

Relevansi penelitian nampaknya menarik didiskusikan. Sebuah tema klasik yang memang tidak akan menemukan jawaban tunggal. Para pengkritik secara sinis seringkali dengan percaya diri mengatakan bahwa penelitian perguruan tinggi hanya terpajang di rak perpustakaan dan tidak bermanfaat. Kritik lain mengatakan bahwa banyak dosen yang meneliti hanya sekedar untuk mendapatkan poin dalam rangka kenaikan jabatan akademik tanpa menaruh perhatian yang cukup dengan relevansi dan manfaat penelitian yang dilakukan. Atau, bahkan niatnya adalah semata-mata koin yang akan didapat tanpa memperdulikan kualitas penelitian yang dilakukan. Penelitian dianggap ritual untuk memenuhi kontrak atau menggugurkan kewajiban.

Dalam tingkatan tertentu nampaknya aneh kalau kita menutup mata. Diakui atau tidak, memang beberapa fakta di lapangan memperkuat tuduhan tersebut. Namun, memperumum tuduhan untuk semua penelitian dan semua dosen juga bukan pendapat yang lebih cerdas. Kritik yang muncul ke permukan sudah seharusnya dilihat sebagai cambuk untuk memperbaiki diri ke depan.

Cerita berikut mungkin akan memberikan kita gambaran bagaimana penelitian harus ditaruh dalam kerangka yang benar.

Salah satu pertemuan matakuliah Theoretical Foundations in Information Systems yang saya ambil, menghadirkan dosen tamu dari universitas tetangga. Profesor ini berasal dari Perancis tetapi sudah malang melintang di banyak negara, lintas benua.

Ada pernyataan menarik yang dia lontarkan di kelas sebagai otokritik, tanpa bermaksud menyinggung siapapun. “Research in some cases are just like prostitution. No money, no research. Like prostitution, isn’t it?,” tanyanya retorik. Semakin menarik, karena yang mengungkap metafor ini adalah professor perempuan. Lah apa hubungannya?

Memang dana penelitian yang didapat adalah ukuran yang sangat kentara, ceta wela-wela. Asesor BAN PT pun selalu menanyakan ini karena masuk dalam salah  satu item penilaian. Semakin banyak nolnya semakin tinggi nilainya, meskipun tidak ada publikasi yang cukup berkualitas dari penelitian ini. Sebaliknya, penelitian yang menghasilkan publikasi dengan proses peer-review yang cukup ketat, yang dilakukan tanpa proposal dan dana dari pihak luar, masih dipandang sebelah mata. Argumen yang dikemukakan memang sekilas masuk akal. Kalau penelitian bermutu, maka akan ada yang mendanai. Definisi mutu penelitian juga nampaknya perlu diskusi panjang.

“Kalau memang ada penelitian, mana proposalnya?,” begitu kira-kira komentar salah satu asesor yang pernah saya temui beberapa tahun lalu, karena mungkin, agak memandang rendah perguruan tinggi swasta. Kesimpulan asesor tadi: tanpa proposal, tidak ada penelitian. Pola pikir yang sangat mekanistik.

Metafor prostitusi ini didukung juga dengan bukti-bukti empiris. Kalau mau jujur, tujuan mengajukan dana penelitian dalam berbagai skema nampaknya seringkali tidak murni akademik, dan mungkin bahkan ada yang menempatkan akademik di urutan nomor 27, alias buncit. Tentu saja, saya tidak menuduh siapapun. Tetapi, jarang dalam pembicaraan antar peneliti yang muncul adalah temuan atau proses penelitian yang sedang dilakukan, tetapi berapa dana yang didapat?

Prinsip “palu-gada” juga semakin memperkuat metafor ini. “Apa lu mau, gue ada”. Dari pengamatan sekilas dan informasi kiri-kanan-atas-bawah, banyak yang banting setir untuk sesuai dengan peluang yang ada, meskipun jauh dari bidang keahlian atau minatnya. Dan, bahkan ketika proposal diterima dan harus presentasi karena namanya dijadikan ketua peneliti, kalang kabut, dan kadang dengan berbagai alasan, diwakilkan ke salah satu anggotanya yang lebih tahu tentang topik penelitian ini (atau lebih tepatnya yang membuat proposal penelitian).

Saya jadi teringat acknowledgement sebuah article jurnal yang tidak lazim. Biasanya, acknowledgment jurnal berbunyi: “Financial support from … made this research possible. Bla… bla …“. Tetapi yang ini lain: “The authors received no financial support for the research and/or authorship of this article.”

Tentu saja, kisah satiris ini tidak kemudian dijadikan alasan menuduh secara membabi-buta dan menyamaratakan semua penelitian yang mendapatkan dana dari luar, apalagi dijadikan pembenar tidak melakukan penelitian dengan ngeles tidak mau terlibat ‘prostitusi’.

Moral apa yang bisa didapat? Pertama, dana sangat menentukan penelitian, terutama yang membutuhkan dana besar. Kedua, penelitian tidak harus menunggu dana. Ketiga, seperti namanya, “dana penelitian”, harusnya digunakan sebisa mungkin untuk meningkatkan kualitas penelitian, dan bukan meningkatkan kuantitas dana sisa. Kalau memang penelitian berkualitas dengan indikasi salah satunya publikasi berkualitas atau diseminasi/inkubasi hasil penelitian yang bagus, kalau dana sisa, itu adalah rejeki yang pantang ditolak. Keempat, kelima, keenam, dan seterusnya, silakan ditambahkan sendiri.

Terlepas dari itu semua, sudah seharusnya semakin sering dosen meneliti, maka dia akan ahli di bidang tersebut, dan mempunyai andil yang cukup penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Poin untuk kenaikan jabatan akademik seharusnya merupakan dampak samping, dan bukan merupakan tujuan. Jabatan akademik juga seharusnya dikaitkan dengan kewenangan akademik dan tanggungjawab akademik yang diembannya. Kalau sampai ditemukan dosen yang jabatan akademiknya tinggi tetapi kurang mumpuni di bidang yang ditekuninya, mungkin ada yang salah dalam proses kenaikan kewenangan akademik tersebut.

4 thoughts on “6.1 Mengapa Meneliti

  1. I love this part, since the reality and conceptually are opposite, but overall, I believe that as a lecturer we should keep in mind that our core duty is to develop knowledge and disseminate for the better future.🙂 thanks Mr. Fathul, I really note this part.

    Alvin

  2. saya juga senang bagian ini pak,… hehehehe *sudah setahun jadi calon dosen* sering sekali saya bilang “ooooo” atau mungkin “lhooo lhaaa” dan sesekali “ckckckc” tapi tak jarang juga “waaaahhh”

    semoga pinternya pak fathul nular ke saya hehehe,.. dan idealisme sebagai pengajar dan peneliti tetap terjaga🙂

    -yuli-
    alumni UII ngajar di UPN🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s