6.2 Menyingkap Rahasia

Allah menciptakan semua yang ada di alam ini tidak sia-sia. Ada alasan untuk setiap ciptaan. Tugas manusialah menyingkapnya. Banyak yang sudah terungkap, masih sangat banyak atau bahkan tak terhingga menurut ukuran manusia dengan segala keterbatasannya, yang belum terungkap. Bukankah ilmu Allah memang tidak terbatas? Ayat 109 dari Surat Al-Kahfi memberikan gambaran yang sangat jelas. “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Dalam banyak ayat Al-Qur’an, Allah telah menantang manusia menggunakan akalnya untuk memikirkan fenomena alam yang ada di sekitar kita dan fenomena sosial yang tergambarkan dalam ayat-ayat tersebut.

Penelitian bagi saya adalah ikhtiyar untuk menyingkap sebagian rahasia ini. Untuk itulah Allah memberikan akal kepada manusia. Penyingkapan rahasia ini akan memberikan tambahan perspektif kepada kita bagaimana menjelaskan fenomena alam dan sosial yang terjadi. Dengan tambahan amunisi ini, kita pun dalam berperan dengan lebih optimal dalam memberikan kontribusi positif terhadap perubahan.

Karena itulah, salah satu indikator kualitas penelitian adalah kontribusi apa yang bisa diberikan oleh penelitian tersebut. Biasanya, kontribusi ini selain dalam memajukan ilmu, juga terhadap praktik. Sehingga salah satu pertanyaan yang seharusnya diajukan oleh semua peneliti kepada dirinya masing-masing ketika akan melakukan penelitian adalah: kontribusi apa yang akan diberikan oleh penelitian yang akan saya lakukan?

Dalam tradisi akademik, ada kaidah-kaidah yang disepakati bersama bagaimana melakukan penelitian. Setiap bidang ilmu, nampaknya mempunyai tradisi penelitian tersendiri dengan segala variasinya. Ada tradisi penelitian yang sangat ketat dalam menjalankan metode penelitian ilmiah. Ada yang mungkin lebih longgar. Ada komunitas ilmiah yang selalu peduli dengan metode penelitian apa yang digunakan dalam sebuah penelitian, sementara yang lain, dalam kutub yang paling ekstrim memiliki semboyan just do it.

Perbedaan ini akan sangat kentara kalau kita mencoba menelaah tulisan-tulisan dalam jurnal, misalnya dalam bidang sistem informasi, yang saya geluti. Tradisi penelitian di Amerika sangat berbeda dengan tradisi di Eropa. Di Indonesia, tradisi ini nampaknya belum begitu jelas.

Tradisi keilmuan di Indonesia nampaknya memang perlu dibangun bersama-sama. Kalau mau jujur, terutama dalam bidang yang bersinggunggan dengan manusia atau ilmu sosial, sebagian besar literatur menggunakan acuan negara maju, sebut saja Amerika dan Eropa. Penelitian yang khas Indonesia dan dalam konteks Indonesia masih sangat jarang mewarnai diskusi di kelas.

Karena itulah, saya termasuk orang yang mempunyai obsesi untuk banyak melakukan penelitian dalam konteks Indonesia. Pengalaman saya selama ini mengindikasikan ada hal-hal spesifik yang belum tergali dan tersaji dalam bentuk yang lebih terstruktur oleh peneliti Indonesia. Tidak percaya?

Silakan kalau Anda mempunyai waktu, silakan lakukan penelitian kecil. Ketikkan “Indonesia” dalam scholar.google.com. Mesin pencari akan memberikan semua tulisan (buku atau artikel jurnal) yang judulnya mengandung kata “Indonesia”. Dari sejuta lebih entri yang akan Anda lihat, jalankan mouse Anda ke bawah dan ke halaman-halaman berikutnya untuk melihat nama-nama pengarangnya. Saya berani bertaruh (eit, tanpa uang lho!), akan lebih banyak nama asing yang Anda lihat daripada nama orang Indonesia.

Apa artinya? Konteks penelitian di Indonesia masih banyak dilakukan oleh orang asing. Tidak ada yang salah, hanya saja, sangat mungkin cara pandang akan sangat mewarnai hasil penelitian, terutama dalam penelitian sosial. Tetapi, hal ini tentu bukan berarti haram bekerjasama dengan peneliti asing. Dalam banyak kasus, sangat dianjurkan. Mengapa? Terutama dalam penelitian sosial, karena kita hidup di dalam masyarakat yang kita teliti, seringkali ada atau banyak hal menarik yang perlu dikonstruksi tetapi tidak terdeteksi, gone unnoticed, dengan kacamata kita. Kacamata peneliti asing mungkin akan sangat membantu.

Lah, kita kan akan mendidik mahasiswa menjadi pemain global, mengapa perlu fokus ke konteks Indonesia? Mungkin akan ada yang berpendapat demikian. Bagi saya, menjadi pemain global tidak lantas menjadikan kita lupa konteks kelokalan, atau keindonesiaan. Penelitian yang seperti ini akan menyingkap rahasia dalam banyak fenomena yang terjadi di tanah air yang sangat mungkin teori-teori yang ada tidak bisa lagi menjelaskan, dan memerlukan teori-teori baru untuk membedah dan memahaminya.

One thought on “6.2 Menyingkap Rahasia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s