7.1 Budaya Membaca

Jika Anda termasuk yang beruntung pernah bepergian ke luar negeri dalam sebuah pesawat, terutama untuk perjalanan jarak jauh, Anda akan temukan yang berbeda. Ketika di pesawat, dan juga di moda transportasi lainnya, seperti kereta api, Anda akan temukan banyak orang membaca.

Bagian ini, dan beberapa bagian lainnya dalam buku ini, saya tulis di pesawat dari Amsterdam menuju Singapura. Penumpang persis di samping saya sedang asyik membaca  buku digital melalui iPadnya. Penumpang di belakangnya juga sedang khusyuk membaca buku yang lain. Banyak lampu baca yang masih menyala di sela-sela penumpang lain yang harus beristirahat karena kelelahan dan harus mengumpulkan energi untuk aktivitas lain.

Ketika orang menunggu di bandara atau di stasiun, tidak sulit mencari orang yang juga sedang asyik membaca. Perpustakaan pubik yang dibuka pemerintah juga ramai dikunjungi orang. Singkatya, budaya membaca di banyak negara, terutama negara maju sudah sangat tinggi. Pemandangan lain akan kita temukan di Indonesia.

Saya teringat ketika saya beberapa kali berkunjung ke rumah orang yang sudah tua di Norwegia ketika masih sekolah di sana. Dia bukan dosen atau yang bergelut dengan dunia pendidikan. Rak bukunya terisi dengan buku-buku baru, termasuk yang saya ingat betul, novel tulisan Salman Rushdi yang dilarang di Indonesia.

Bahkan, ketika ke kamar mandi seorang teman dari Estonia, saya temukan banyak bacaan di kamar mandinya. Inilah yang mengilhami saya membuah rak buku kecil di kamar mandi, dan di sanalah saya bisa gunakan waktu untuk membaca. Sudah banyak buku yang terselesaikan membacanya di kamar mandi tersebut.

Memang diakui atau tidak, budaya membaca di Indonesia belum terbentuk. Ada yang mengatakan, budaya tutur di Indonesia lebih dominan dibandingkan budaya menulis. Namun budaya tutur mempunyai kelemahan dalam transfer konten dan tingkat preservasi yang rendah, meskipun budaya tutur mempunyai jangkauan hampir tak terbatas. Saya yakin, misalnya, kita mengetahui sejarah bangsa Indonesia, lebih banyak melewati tulisan dibandingkan tutur.

Tanpa menghilangkan budaya tutur yang sudah ada, nampaknya komitmen membangun budaya membaca ini sangat penting di Indonesia. Tentu, ada banyak sebab yang bisa diidentifikasi, mulai dari budaya yang tidak pernah dibangun dengan serius melalui banyak kanal, termasuk sekolah, sampai masalah daya beli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s