8.2 Publikasi Ilmiah

Di kalangan akademisi Amerika, slogan “publish or perish” sangat terkenal. “Publikasi atau mati mendadak”, kira-kira terjemahkan langsungnya seperti itu. Dalam tradisi keilmuan, publikasi memegang peranan sangat penting. Dengan publikasi, hasil-hasil penelitian dapat disampaikan kepada audien yang lebih luas, dan akan membuka pintu kemanfaatan yang lebih lebar.

Arti penting publikasi ini dapat kita lacak dalam sejarah Islam, bahwa pada masa Dinasti Abbasiyah, pemerintah membuat program untuk mengumpulkan buku-buku dan menerjemahkannya. Koleksi tersebut disimpan dalam Rumah Kebijaksanaan atau Baitul Hikmah. Penulis buku akan diberikan imbalan emas seberat buku tersebut. Penerjemah non-muslim diberdayakan dengan imbalan serupa untuk setiap buku hasil terjemahannya ke dalam bahasa Arab. Buku-buku berasal dari beragam bahasa, seperti Yunani, Ibrani, dan Persia. Pada saat itu, buku-buku yang terkait dengan ilmu positivis, seperti kedokteran dan astronomi, diterjemahkan terlebih dahulu. Baru kemudian, buku-buku metafisik, seperti filsafat Plato dan Aristoteles (Amstrong, 2009).

Para ilmuah muslim pada masa keemasan Islam sangatlah produktif. Sebagai contoh, Ibnu Sina yang dikenal sebagai bapaknya kedokteran, meskipun Ibu Sina juga menguasai banyak ilmu lainnya, seperti astronomi dan filsafat, semasa hidupnya telah menghasilkan sekitar 250 karya, baik dalam bentuk buku maupun artikel. Hal ini menandakan bahwa publikasi tertulis sangatlah penting dalam penyebaran pengetahuan. Bahkan, Murtadla Muthahhari, ilmuwan Islam dan salah satu tokoh penting dari revolusi Iran mengatakan: tinta ulama’ sama dengan darah syuhada’.

Jika Anda adalah orang yang percaya dengan kemanfaatan pengetahuan hasil penelitian, publikasi ilmiah adalah salah satu pilihan tak terhindarkan. Meskipun, dalam beberapa kasus, dapat dikemas pula dalam bentuk yang populer untuk menyasar audien yang lebih luas.

Memang harus diakui, publikasi ilmiah, seringkali tidak semudah yang dibayangkan. Semakin kredibel outlet publikasi yang kita sasar semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk terbit. Paling tidak terdapat empat outlet publikasi yang bisa dipilih: buku, artikel yang dipresentasikan dalam konferensi, artikel dalam jurnal, atau artikel ilmiah populer. Buku jelas membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikannya. Buku komitmen yang lebih kuat, apalagi jika untuk penerbit internasional.

Artikel untuk konferensi dengan penilaian sejawat (peer-review) secara umum mempunyai keketatan kontrol kualitas yang agak longgar dibandingkan dengan artikel untuk jurnal. Banyak  yang memanfaatkan konferensi sebagai cara mendapatkan masukan untuk perbaikan artikel yang kemudian bisa diterbitkan dalam kualitas jurnal.

Sebuah studi menemukan bahwa artikel dalam jurnal ilmiah, apalagi yang tersedia dalam format digital, lebih sering diacu dibandingkan dalam bentuk buku dengan peredaran yang terbatas. Artikel jurnal juga lebih aktual dibandingkan dengan buku, meski untuk terbit seringkali antara waktu melaksanakan penelitian sampai dengan terbit dalam artikel setelah melalui proses peneliaian yang ketat bisa mencapai dua atau tiga tahun, atau bahkan lebih. Enam bulan adalah waktu yang sangat cepat dari pengiriman artikel sampai dengan terbit.

Artikel ilmiah populer juga sebuah pilihan bijak jika penelitian yang kita lakukan cocok untuk konsumsi umum, atau bisa dikemas ke dalam bahasa yang lebih populer. Namun perlu dicatat, tidak semua penelitian bisa dikemas dalam format ini.

Publikasi akan semakin membuka pintu kebermanfaatan, dalam ukuran keterkutipan, jika dimasukkan ke dalam outlet internasional. Tren publikasi internasional nampaknya harus mulai digalakkan. Banyak alasan betapa pentingnya publikasi internasional. Selain menjangkau audien yang lebih luas, publikasi internasional juga bukti kualitas yang diakui secara internasional. Jika internasionalisasi adalah salah satu strategi yang diambil oleh universitas Anda, maka publikasi internasional harus dilihat sebagai salah satu anak tangga.

Untuk melihat posisi terkait dengan publikasi, banyak cara yang bisa digunakan. Jika Anda bisa mengakses situs Scopus (www.scopus.com), dengan mudah dapat dilihat, seorang peneliti sudah mempunyai berapa publikasi yang diindeks, dan telah dikutip berapa kali, oleh siapa saja. HighWire (highwire.stanford.edu) yang digagas oleh Stanford Unversity juga memberikan layanan serupa. Cara yang lebih mudah, gunakan Google Scholar (scholar.google.com). Ketikkan nama peneliti di sana, dan temukan berapa banyak publikasi yang telah diindeks oleh Google Scholar, berapa kali dikutip, dan oleh siapa saja.

Apa artinya kalau publikasi kita banyak dikutip? Pertama, bidang kajian penelitian kita menarik minat banyak peneliti lain, alias bukan bidang kajian “buntu”. Kedua, kualitas publikasi atau penelitian kita diakui oleh peneliti lain. Ketiga, kemungkinan nilai manfaat hasil penelitian kita semakin besar karena dikembangkan juga oleh peneliti lain. Keempat, secara individual, nama kita juga dikenal, dan bisa membuka jaringan yang lebih luas.

One thought on “8.2 Publikasi Ilmiah

  1. Yang jadi masalah itu, biaya untuk ikut konferensi ilmiah sebagai sarana publikasi paper sering tidak diakomodasi oleh pihak PT/Universitas. Biaya ini seharusnya tidak mencakup biaya pendaftaran saja tetapi termasuk akomodasi dan transportasi. Wajar, kalau banyak dosen dan mahasiswa yang berpikir ulang untuk menyertakannya dalam konferensi. Belum lagi, seringkali dosen lebih aktif “proyekan” demi tetap berkebulnya asap kompor masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s