9.3 Dosen = Preman?

Ketika jiwa seni dosen melampau batas-batas berkesenian, maka sampai tataran tertentu seorang dosen mirip dengan preman. Maaf, saya tidak menemukan istilah yang lebih santun untuk menyebutnya. Preman tidak menganggap ada aturan. Beda antara seniman dan preman seringkali sangat tipis. Seorang seniman yang salah memanfaatkan media berkreasi, bukan ke kanvas tetapi ke tembok orang lain, telah bermetamorforsis menjadi seorang preman. Hak orang lain telah dilanggar.

Ketika dosen menjadi preman, banyak hak yang mungkin dilanggar: hak mahasiswa, hak kolega, dan hak institusi. Hak mahasiswa dapat dilanggar dengan berbagai cara: mengajar sekenanya, mengganti jadwal kuliah seenaknya tanpa memperhatikan mahasiswa,  membimbing ala kadarnya, atau bahkan memanfaatkan mahasiswa untuk kepentingan pribadi tanpa memberikan manfaat kepada mahasiswa. Hak kolega juga dapat dengan mudah diciderai: tidak memberikan respek yang semestinya, memberikan beban yang seharusnya tidak menjadi tanggungjawab kolega, atau menjadikan kolega repot karena kengawuran yang terus menerus dan disengaja. Hak institusi juga dapat terlanggar dengan mudah, seperti dengan mangkir dari tugas/amanah dan tidak mengindahkan aturan yang sudah disepakati bersama. Dosen yang sepeti ini biasanya jago ngeles, alias ahli dalam membuat 1001 alasan.

Preman juga biasanya bisanya hanya protes, menghujat, dan mau menang sendiri. Dalam mengajar harusnya seperti kata pepatah China, “better to light a candle than to curse the darkness.” Lebih baik menyalakan lilin daripada menghujat kegelapan. Dapat dipastikan, tidak ada sesuatu yang sempurna. Mahasiswa, kolega, institusi semuanya dalam proses untuk menjadi baik. Dukungan dari dosen dengan menjalankan kewajiban dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab sangat diperlukan. Wong, dulu melamar jadi dosen juga tidak ada yang memaksa kan? Kok setelah menjadi dosen merasa hanya institusi yang memerlukan dia. Tanpa kesadaran pelaksanaan kewajiban atau penunaian hak mahasiswa-kolega-institusi, dosen yang harusnya menjadi aset institusi dapat berubah menjadi keset[1]. Keberadaannya tidak menggenapkan atau mengganjilkan alias tidak menambah manfaat yang nyata dan dapat dibanggakan.

Mengapa premanisme bisa terjadi? Salah satu sebabnya adalah pembiaran yang luar biasa. Ketika kesalahan-kesalahan atau pelanggaran kecil dibiarkan tanpa ada upaya memperbaiki, sejalan dengan waktu, akan semakin besar kesalahan yang dibuat dan akan semakin banyak dosen yang mengikutinya. Teori Jendela Pecah (Broken Window) yang dikembangkan oleh krimonolog James Q. Wilson dan George Kelling dapat menjelaskan fenomena epidemi premanisme ini (Gladwell, 2000). Ketika jendela sebuah bangunan di sebuah kawasan pecah dan tidak diperbaiki, maka orang yang melihatnya akan mempunyai kesimpulan bahwa tidak ada orang yang peduli dan bertanggung-jawab atas perawatan bangunan tersebut. Sangat mungkin, akan semakin banyak jendela yang kacanya akan pecah. Ini mirip dengan fenomena grafiti liar di tembok-tembok bangunan kota. Ketika grafiti liar dibiarkan, maka akan semakin banyak grafiti lain yang menghiasi tembok-tembok bangunan kota, karena aktivitas vandalisme tidak dianggap sebagai sebuah masalah.

Analogi ini dengan pas dapat diterapkan pada kasus premanisme dosen. Fenomena ini sependek pengetahuan saya tidak hanya terjadi di universitas swasta tetapi juga negeri. Bahkan sebuah rumor yang berkembang, ada sebuah jurusan di sebuah universitas yang dosennya pun merasa tidak tega memasukkan anaknya ke jurusan tersebut karena banyak mahasiswa yang sudah ditelantarkan oleh dosen-dosennya untuk sibuk dengan aktivitas proyek yang mengabaikan tanggung-jawab profesional dosen di kampus. Dosen mengajar kalau sempat, dan dapat dipastikan hasilnya tidak akan optimal. Masih beruntung jika mahasiswa yang masuk ke dalam jurusan tersebut adalah mereka yang berkualitas bagus dan dapat mengembangkan diri sendiri, tetapi jika kualitas mahasiswa yang masuk pas-pasan, maka kualitas pendidikan menjadi taruhan mahal. Keadaan ini diperburuk dengan kenyataan bahwa memberikan sanksi kepada seorang dosen harus melalui proses panjang dan tidak mudah, tidak semudah proses memberikan penghargaan kepada dosen yang berprestasi.


[1] Alas untuk membersihkan telapak/alas kaki ketika akan memasuki rumah/ruangan/gedung.

5 thoughts on “9.3 Dosen = Preman?

  1. ironis,,, dunia pendidikan kita sepertinya semakin memprihatinkan. Ditambah lagi dengan para pelamar guru yang notabene murni hanya untuk mencari nafkah dengan mengesampingkan amanah yang akan diembannya saat menjadi seorang guru. Tragisnya,, korban sudah banyak berjatuhan bahkan mulai dari tingkat dasar,, entah sudah berapa tahun hal itu terjadi dan sampai kapan akan terjadi,,, semoga pemerintah jeli dalam menyikapi ini semua!

  2. menurut bapak solusi pencegahan bagi premanisme dosen seperti apa???????? menurut saya lebih mudah mengatasi preman kota daripada fenomena preman dosen

    • Yang terpikirikan oleh saya ada beberapa Pak. Mulai dari proses seleksi yang tidak hanya mengandalkan IP, tetapi juga komitmen dan soft skill lain; sampai dengan penegakan aturan yang tidak setengah-setengah, yang diikuti dengan manajemen yang ‘mengikat’ dosen untuk tidak ‘keluyuran’ (seperti memikirkan peningkatan pendapatan dosen, wahana/program untuk aktivitas dosen, dan lain-lain). Hanya saja, memang mengatasi masalah yang sudah dibiarkan lama, dan sudah terasa nikmat, tidak semudah membalikkan telapak tangan.

      Apakah fenomena premanisme ini juga Bapak temukan? Bagaimana pendapat Bapak?

  3. Menurut saya premanisme dosen ada penyebabnya. salah satunya adalah kesejahteraan yang tergolong kecil, makanya dosen mencari obyekan di luar kampus, klau tidak begiitu bagaimana bisa menutupi tuntutan kehidupan seperti saat ini, jika kesejahteraan dosen bisa di jamin seperti di negara maju, maka kualaitas pendidikan akan semakin baik pula. saat nya pemangku kekuasaan memikirkan hal-hal seperti ini. terimakasih.

    • Setuju Mas. Cuma kenapa masih ada yang menjaga idealisme meski dengan gaji yang sama ya?

      Kalau gaji dosen mau naik, di PTS, cara paling mudah dengan meningkatkan biaya kuliah yang dibebankan ke mahasiswa. Tapi kalau ini yang dilakukan, sangat mungkin ada masalah baru.

      Hayo, mau mulai dari mana? Mengandalkan pemerintah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s