7.3 Teknik Membaca

Jika suatu saat, Anda berkunjung ke sebuah desa, dan di sana Anda diminta membuat batu-bata  yang merupakan sumber pencaharian di kampung tersebut. Berapa banyak batu-bata yang bisa Anda hasilkan dalam waktu satu jam? Saya yakin, tidak akan sebanyak yang dihasilkan orang kampung tersebut. Kualitasnya pun saya meragukan kalau sama dengan yang orang kampung buat. Ada satu hal yang membedakan: teknik. Anda tidak menguasai teknik membuat batu-bata.

Begitu juga dalam membaca. Jika kita tidak menguasai teknik membaca, maka kecepatan membaca kita akan sangat lambat dan tingkat penyerapan juga rendah. Teknik dalam banyak kasus sama dengan ilmu atau seni. Sisipkan kata teknik, ilmu, dan seni sebelum kata “membaca”. Kita akan temukan, teknik membaca, ilmu membaca, dan seni membaca. Frasa tersebut mempunyai kesan yang sangat mirip.

Ada banyak teknik yang sudah dikembangkan. Namun, saya anjurkan Anda mencari teknik yang paling pas. Saya baca buku kecil teknik membaca ketika masih di kelas 2 SMA. Buku kecil tulisan Pak The Liang Gie (1987), dosen UGM yang penuh dedikasi dan juga pendiri Yayasan Studi Ilmu dan Teknologi di Yogyakarta. Saking hormatnya dengan Pak The, begitu beliau biasa dipanggil, Pak Amin Rais pernah menuliskan kesannya secara khusus dalam kolom Resonansi yang sangat inspiratif di Republika belasan tahun yang lalu.

Jika Anda kesulitan mencari referensi, ketikkan saja “speed reading” di mesin pencari Google. Kita akan temuan puluhan jutaan entri terkait. Pilih salah satu yang menurut Anda pas. Bahkan sangat mungkin, Anda akan temukan banyak pelatihan yang ditawarkan di sana.

Secara umum ada beberapa tips yang bisa digunakan dan akan sangat tergantung tujuan kita dalam membaca. Jika kita akan membaca buku, alangkah baiknya pindai dulu sinopsisnya yang biasanya dicantumkan di sampul belakang. Kemudian, pindai juga daftar isi dan indeks (jika disertakan). Dengan demikian, kita sudah mengetahui garis besar buku. Baca bab pertama atau bagian awal buku tersebut. Biasanya di sana, kita akan temukan bagaimana buku disusun dan ditujukan untuk siapa. Jika informasi awal yang Anda dapatkan menunjukkan bahwa bukan buku tersebut yang ingin Anda baca, jangan lanjutkan. Ada kalanya, kita tidak perlu membaca detil semua bagian buku untuk memahami isinya.

Bagaimana kalau membaca jurnal? Baca dulu abtraksnya. Informasi kunci akan kita temukan di sana. Lanjutkan ke bagian kesimpulan. Jika Anda tertarik, lanjutkan membaca bagian lainnya. Seringkali juga, kita tidak perlu membaca semua bagian, jika memang kita fokus mencari informasi khusus.

Ada orang yang merasa nyaman jika membaca ditemani musik klasik atau jazz. Ada juga yang anti dengan suara, alias menyukai ketenangan ketika membaca. Ada juga yang bahkan pusing ketika membaca di bis, kereta api, atau pesawat. Silakan Anda bereksperimen dan temuan cara yang menurut Anda paling pas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s