8.1 Budaya Menulis

Seperti sudah disinggung sebelumnya, budaya tutur di Indonesia masih sangat kuat. Akibatnya budaya menulis pun masih rendah. Rendahnya budaya menulis sangat mungkin juga terkait dengan budaya membaca. Jika sebagian besar orang jarang membaca, untuk apa menulis? Kira-kira seperti itu logika yang ada di benak banyak orang yang mau menulis.

Fakta memang membuktikan demikian. Statistik penerbitan yang bisa saya lacak, menunjukkan bahwa dalam satu tahun, jumlah judul buku yang diterbitkan di Indonesia yang berpenduduk lebih dari 225 juta jiwa baru sekitar 8.000. Bandingkan misalnya dengan Malaysia yang mampu menerbitkan jumlah serupa dengan pendudukan yang hanya 27 juta. Bahkan Vietnam yang baru menata negaranya setelah dijajah Amerika mampu menghasilkan 15.000 judul buku per tahun untuk penduduk sekitar 80 juta jiwa. Di Jepang, tidak kurang dari 60.000 judul buku diterbitkan setiap tahunnya, sedangkan di Inggris angkanya bahkan lebih besar. Per tahunnya buku yang diterbitkan bisa mencapai 110.155 judul. Untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia, program UNESCO, menetapkan 50 judul buku untuk dibaca persatu juta penduduk, sedangkan untuk negara maju, sedikitnya 500 judul buku untuk dibaca oleh persatu juta penduduknya. Capaian Indonesia masih jauh di bawah standar tersebut. Angka itu baru dilihat dari jumlah judul buku, belum mencakup penghitungan oplah.

Jumlah artikel jurnal internasional yang ditulis oleh peneliti Indonesia juga masih terbatas.  Sampai Desember 2010, jumlah artikel yang ditulis oleh peneliti Indonesia yang terdaftar di Scopus (www.scopus.com) sebanyak 14.356. Bandingkan dengan lebih dari 40 juta rekaman (artikel jurnal, prosiding, dan buku) yang ada di Scopus. Jumlah jurnal yang terdaftar saya sebanyak 16.500 judul. Dengan iseng saya bandingkan dengan Malaysia yang berpenduduk 27 juta jiwa. Pada waktu yang sama, peneliti Malaysia telah menerbitkan 56.054 karya yang diindeks oleh Scopus. Jumlah publikasi peneliti Singapura bahkan dua kali Malaysia, mencapai 119.006. Jujur harus diakui, Indonesia masih jauh tertinggal.

Ada beberapa sebab yang bisa diidentifikasi. Pertama, motivasi intrinsik atau internal dosen yang rendah. Nampaknya ini yang menjadi kendala utama. Ketika seorang dosen merasa tidak penting menulis, maka telah hilangnya separuh kedosenannya.

Ilustrasi ini bisa kita gunakan untuk meningkatkan motivasi instrinsik. Apakah Anda masih ingat nama dosen Anda kenal yang meninggal beberapa tahun lalu? Apa yang Anda ingat? Dosen, profesor sekalipun, yang tidak meninggalkan pemikiran serius, yang biasanya terekam dalam tulisan/publikasi, akan sangat mungkin sudah terhapus dari memori kita. Kalau pepatah mengatakan, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, maka dosen mati meninggalkan tulisan.

Setuju atau tidak, jika Anda termasuk yang suka membaca, nampaknya akan merasa kalau Kuntowijoyo atau Nurcholis Madjid masih hidup, atau kalau toh sudah meninggal, seperti baru kemarin sore, alias baru beberapa waktu yang lalu. Mengapa? Karena mereka meninggalkan tulisan yang cerdas. Coba cek nama-nama mereka di Google, sebagai salah satu indikator posisi mereka di hati dan di memori banyak orang. Ketika saya ketikkan Kuntowijoyo di Google, muncul 97.600 entri. Nama Nurcholis Madjid muncul 86.300 entri.

Kedua, ketiadaan insentif. Nampaknya  tidak bisa dipungkiri, ketiadaan insentif  yang memadai juga mempunyai andil dalam minimnya publikasi dosen. Dalam beberapa tahun terakhir, nampaknya pemerintah dan banyak perguruan tinggi telah memberi perhatian yang lebih pada masalah ini.

Ketika bertemu dengan seorang dosen senior yang sangat produktif, saya dengan iseng menyindir kalau di lembaganya, dosen-dosen muda jarang ada yang menulis. Apa jawaban dia yang sekarang telah menjadi profesor? Mereka lebih tergiur pada spot money, uang yang bisa didapatkan dengan mudah, seperti dengan mengajar dan mengejar berbagai proyek.  Ketiadaan insentif telah mengubah prilaku. Padahal pada institusi tersebut, dosen-dosen seangkatan dosen senior ini juga sangat produktif.

Namun, nampaknya, situasi ini bisa dibalik. Ketika bertemu dengan seorang dosen senior lain yang sangat produktif, saya bertanya, apa resepnya. Dia menjawal, “Dulu, motivasi saya uang. Motivasi inilah yang memacu saya menulis.”  Dia nampaknya juga menikmati kerja kerasnya, dengan royalti yang cukup besar dari puluhan buku yang sudah ditulisnya. “Sekarang,” lanjut dia, ” motivasi sudah berubah. Tidak lagi uang.” Dia menyebut aktualisasi diri sebagai gantinya.

Ketiga, minimnya kemampuan menulis. Diakui atau tidak, kemampuan menulis dosen sangat beragam, sebagai akibat daya abtraksi yang berbeda-beda. Kadang saya sangat sedih membaca tulisan dosen yang diusulkan untuk dipublikasi pada sebuah jurnal atau seminar. Aturan tata bahasa seringkali diabaikan. Pilihan katanya atau diksi yang digunakan seringkali juga tidak tepat. Indikasi salin-tempel dari tulisan orang lain alias plagiarisme kadang sangat kental terasa. Belum lagi, masalah logika dalam mengemukakan pendapat.

Keempat, khusus untuk artikel pada jurnal atau forum ilmiah internasional, keterbasan bahasa Inggris masih menjadi kendala. Kalau kendalanya hanya ada pada bahasa, ada banyak cara untuk menyiasai masalah ini. Pertama, tentu saja latihan alias praktik. Practice makes perfect. Kedua, menggunakan jasa professional editor untuk memoles bahasa. Sekali lagi, memoles bahasa, bukan menuliskan artikel. Ketiga, melakukan kerjasama dengan peneliti dari English speaking countries atau yang relatif tidak mempunyai kendala bahasa.

Penggunaan gaya bahasa seringkali juga berbeda. Peneliti Amerika cenderung langsung ke pokok masalah dan bergaya prosa, sedang peneliti Eropa lebih menyukai bergaya puisi. Penggunaan kata yang berbeda untuk merujuk hal yang sama sering kita jumlah. Bahkan supervisor saya yang sudah malang melintang di dewan redaksi banyak jurnal kelas dunia, mengaku bisa mendeteksi asal negara/kawasan penulis dengan melihat gaya bahasa Inggris.

Intinya adalah belajar. Kemampuan menulis bisa dipelajari jika dilandasi keseriusan. Banyak buku yang bisa dibaca, beragam workshop yang bisa diikuti. Semakin sering kita mencoba menuliskan pemikiran kita dalam tulisan, semakin baik kualitas tulisan kita dari waktu ke waktu. Tidak ada resep semalam jadi untuk dapat menulis dengan baik.

Masih tersimpan dengan baik di memori saya, sebuah tulisan kecil pada situs ilmukomputer.com, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Ya, menulis adalah proses mengikat ilmu. Ketika ilmu sudah ditulis, maka semakin dalam diakses, dan karenanya akan semakin bermanfaat untuk orang banyak.

8 thoughts on “8.1 Budaya Menulis

  1. Dengan deretan ilmuwan Muslim pada masa kejayaan Islam dulu, tidaklah sulit untuk menyetujui apa yang dikatakan oleh George Sarton, ”Tugas utama kemanusian telah dicapai oleh para Muslim. Filosof terbaik, Al-Farabi adalah seorang Muslim. Matematikawan terbaik, Abul Kamil dan Al-Khawarismi adalah Muslim. Bapak kedokteran dunia yaitu Ibnu Sina adalah seorang ulama Muslim. Ahli geography (Ilmu Bumi) dan ensklopedia terbaik, Al-Masudi adalah seorang Muslim. Dan Al-Tabari, ahli sejarah terbaik juga seorang Muslim”
    Sehingga, jika bangsa ini (Indonesia) yang notabene berpenduduk mayoritas Islam ingin mengambil kembali khazanah pengetahuan yang hilang, mereka harus meneliti kembali jejak mereka terdahulu yang membuat mereka sukses, dan menyingkirkan cara-cara yang dipakai pada saat ini karena berhasil mengantarkan mereka pada kegelapan dan kehancuran. Sebab, sejak seribu tahun yang lalu, ketika umat Islam sebagai pembawa cahaya pengetahuan dunia pada zaman kegelapan. Mereka menciptakan peradaban Islam itu karena didorong oleh ajaran agama, gemar membaca, melakukan penelitian dan membuat penemuan ilmiah serta menuliskannya. Sehingga dunia lain (Barat) pun menjadi iri dan belajar banyak dari mereka selama berabad-abad.
    Terimakasih atas ilmunya, semangat terus pak dalam menulis…🙂

    • Terima kasih telah mampir dan untuk komentarnya Mas. Semangat terus juga Mas Oedi dalam menulis!

  2. Assalamu’alaikum
    Sesuai dengan masalah yang saya hadapi pak, saya masih harus banyak belajar dalam teknik menulis, saya masih belum bisa menyusun kata-kata yang benar sesuai Bahasa Indonesia 🙂, ada referensinya gak pak? buku or link yang bisa saya download, thanx before.
    Wassalamu’alaikum

  3. asalamualaikum pak…
    saya dapet tugas niih tentang algoritma..
    pak boleh saya minta link buat download buku bapak yang berjudul dasar dasar algoritma dan pemograman??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s